23/07/2009
basah hujan masih terasa disejuknya senja ini. lembut tamparan angin memberi setitik kekuatan hati yang kering. rumput liar menghijau dihamparan cita – cita yang sempat berkarat. berjejal memenuhi rongga kosong jiwaku.
dan aku masih berdiri terpaku di balik kaca kusam jendela kamarku. pengapnya masih sama terasa seperti tujuh tahun silam. sekeluarga laba – laba bercengkerama disudut ternit triplek bekas yang dipasang dan dicat seadanya. tanpa aturan dan tanpa perencanaan. dan mungkin itulah seni dari jiwa yang dibatasi oleh keterbatasan.
jalan tanah tepat tegak lurus dihadapanku. berlumut disetiap sisi yang tak terpijak oleh kaki – kaki penuh peluh. tanaman pagar tumbuh tak teratur membatasi sepetak kebun dengan jalan itu. diam dan damai tanpa ada kericuhan.
setitik air hangat lewat tanpa permisi diantara kelopak mata yang sejak semalam tak mau terpejam. menoreh sebuah kepedihan yang tak seharusnya kurasakan kembali. menyisir semua kenangan indah yang tertoreh di jalan kecil berlumut.
yah aku sudah mengikhlaskanmu pergi karena aku yakin suatu saat nanti kita akan berkumpul lagi. seperti tawa hangat disore hari ketika kami menunggumu pulang melalui jalan tanah berlumut didepanku ini.
aku kangen ibu …
& Komentar |
imajinasi liar |
Permalink
Ditulis oleh aku
28/05/2009
tinta hujan itu masih mengalir di kertas tanah berumput. tarian riaknya membawa suatu elegi dingin yang menikam hati membutakan jiwa. kurengkuh segenggam harapan kedalam secuil hatiku.
belaian lembab angin senja itu menyapu wajah kotorku. sejuk meresap mengalir dalam setiap celah kosong di dadaku. pekatnya kabut menambah suramnya jiwa merana dilorong sepi.
dan aku hanya bisa membayangkan wajahnya dibawah remang sorot kejam lampu kota. satu wajah teduh di basahnya awal Desember.
dia gadis sederhana dan dengan kesederhanaanya itu mampu menggenggam dan menyatukan lagi puing kosong yang berserak disetiap sudut jiwaku. memilin dan menjalinnya menjadi suatu rajutan halus. nyaris sempurna.
dia gadis lembut dan kelembutanya itu dia mampu meluluhkan kerak hati yang bernoda.
dia gadis biasa, namun mencintaiku secara luar biasa.
dan aku …
& Komentar |
imajinasi liar | Ditandai: aku, cinta, gadis, sederhana, senja |
Permalink
Ditulis oleh aku
26/05/2009
Dia masih diam ketika kugoncang pelan bahunya. Dia masih membisu ketika kuberlutut dikakinya. Pelan dibelainya rambutku dengan senyum simpul tersungging di bibirnya.
Ibu, mengapa kau lahirkan aku kedunia jika hanya untuk menikmati kepahitan hidup ? Ibu, aku lelah dengan semua ini. Aku bosan menghadapi semua yang ada didepanku. Dan hanya senyuman yang aku dapat darimu.
Nak, kau dilahirkan karena kau dipercaya. Kau dipercaya bahwa kau mampu untuk hidup setidaknya untuk dirimu sendiri. Kau tau rumput liar disudut halaman rumah kita ? berapa kali dia disabit ? tapi apa kenyataanya ? dia tetap saja bisa tumbuh dan berkembang.
Inilah hidup nak, kau harus berjalan agar tidak termakan usia yang terus berjalan mundur meninggalkanmu setelah dia berhasil mencekikmu dengan berbagai macam masalah.
Lihatlah disana, disudut stasiun tua itu, ada seorang anak manusia yang membutuhkan harapan untuk hidup. Berjalanlah kesana kalau perlu berlarilah. Bayangkan dibelakangmu ada kereta laju. Berlarilah agar kau tak tergilas. Jangan pernah lelah ataupun menggerutu akan jalan didepanmu. Lalui atau kau tergilas.
Jika saat itu tiba, berbaringlah disini, dipangkuan ibu, lepaskan semua penat dan lelahmu. Rasakan kedamaian abadiNYA bersamaku
& Komentar |
imajinasi liar | Ditandai: aku, hidup, ibu, senja, stasiun |
Permalink
Ditulis oleh aku