basah hujan masih terasa disejuknya senja ini. lembut tamparan angin memberi setitik kekuatan hati yang kering. rumput liar menghijau dihamparan cita – cita yang sempat berkarat. berjejal memenuhi rongga kosong jiwaku.
dan aku masih berdiri terpaku di balik kaca kusam jendela kamarku. pengapnya masih sama terasa seperti tujuh tahun silam. sekeluarga laba – laba bercengkerama disudut ternit triplek bekas yang dipasang dan dicat seadanya. tanpa aturan dan tanpa perencanaan. dan mungkin itulah seni dari jiwa yang dibatasi oleh keterbatasan.
jalan tanah tepat tegak lurus dihadapanku. berlumut disetiap sisi yang tak terpijak oleh kaki – kaki penuh peluh. tanaman pagar tumbuh tak teratur membatasi sepetak kebun dengan jalan itu. diam dan damai tanpa ada kericuhan.
setitik air hangat lewat tanpa permisi diantara kelopak mata yang sejak semalam tak mau terpejam. menoreh sebuah kepedihan yang tak seharusnya kurasakan kembali. menyisir semua kenangan indah yang tertoreh di jalan kecil berlumut.
yah aku sudah mengikhlaskanmu pergi karena aku yakin suatu saat nanti kita akan berkumpul lagi. seperti tawa hangat disore hari ketika kami menunggumu pulang melalui jalan tanah berlumut didepanku ini.
aku kangen ibu …
Ditulis oleh aku