Senja di sudut stasiun

Dia masih diam ketika kugoncang pelan bahunya. Dia masih membisu ketika kuberlutut dikakinya. Pelan dibelainya rambutku dengan senyum simpul tersungging di bibirnya.

Ibu, mengapa kau lahirkan aku kedunia jika hanya untuk menikmati kepahitan hidup ? Ibu, aku lelah dengan semua ini. Aku bosan menghadapi semua yang ada didepanku. Dan hanya senyuman yang aku dapat darimu.

Nak, kau dilahirkan karena kau dipercaya. Kau dipercaya bahwa kau mampu untuk hidup setidaknya untuk dirimu sendiri. Kau tau rumput liar disudut halaman rumah kita ? berapa kali dia disabit ? tapi apa kenyataanya ? dia tetap saja bisa tumbuh dan berkembang.

Inilah hidup nak, kau harus berjalan agar tidak termakan usia yang terus berjalan mundur meninggalkanmu setelah dia berhasil mencekikmu dengan berbagai macam masalah.

Lihatlah disana, disudut stasiun tua itu, ada seorang anak manusia yang membutuhkan harapan untuk hidup. Berjalanlah kesana kalau perlu berlarilah. Bayangkan dibelakangmu ada kereta laju. Berlarilah agar kau tak tergilas. Jangan pernah lelah ataupun menggerutu akan jalan didepanmu. Lalui atau kau tergilas.

Jika saat itu tiba, berbaringlah disini, dipangkuan ibu, lepaskan semua penat dan lelahmu. Rasakan kedamaian abadiNYA bersamaku

3 Respon untuk Senja di sudut stasiun

  1. Tyas mengatakan:

    Aku jadi inget ibu..

  2. [...] aku jadi kangen ibu… [...]

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.