jejak rindu

basah hujan masih terasa disejuknya senja ini. lembut tamparan angin memberi setitik kekuatan hati yang kering. rumput liar menghijau dihamparan cita – cita yang sempat berkarat. berjejal memenuhi rongga kosong jiwaku.

dan aku masih berdiri terpaku di balik kaca kusam jendela kamarku. pengapnya masih sama terasa seperti tujuh tahun silam. sekeluarga laba – laba bercengkerama disudut ternit triplek bekas yang dipasang dan dicat seadanya. tanpa aturan dan tanpa perencanaan. dan mungkin itulah seni dari jiwa yang dibatasi oleh keterbatasan.

jalan tanah tepat tegak lurus dihadapanku. berlumut disetiap sisi yang tak terpijak oleh kaki – kaki penuh peluh. tanaman pagar tumbuh tak teratur membatasi sepetak kebun dengan jalan itu. diam dan damai tanpa ada kericuhan.

setitik air hangat lewat tanpa permisi diantara kelopak mata yang sejak semalam tak mau terpejam. menoreh sebuah kepedihan yang tak seharusnya kurasakan kembali. menyisir semua kenangan indah yang tertoreh di jalan kecil berlumut.

yah aku sudah mengikhlaskanmu pergi karena aku yakin suatu saat nanti kita akan berkumpul lagi. seperti tawa hangat disore hari ketika kami menunggumu pulang melalui jalan tanah berlumut didepanku ini.

aku kangen ibu …

2 Responses to jejak rindu

  1. Menik mengatakan:

    Ibumu juga pasti kangen sama dirimu mas.. Telah lama kah ia pergi ? Yang kuat ya :-)

  2. sunarnosahlan mengatakan:

    semoga tetap tabah menghadapinya

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.